Pepaosan : Tradisi Lisan Masyarkat Lombok

Standar

Tembang merdu lantunan Purnifah memecah gumpalan kabut dan menghangatkan tubuh dari cengkraman dinginnya malam yang menyelimuti Sembalun Bumbung, desa hijau di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Larik demi larik, dadanggula, sinom, dan pangkur terus berlanjut syahdu. Alunannya semakin malam kian memukau penonton; mereka terlena, hanyut dalam cengkukan-cengkukan guru lagu cerita “Jatiswara”.

Tanpa disadari, ajaran dalam tembang menjadi pegangan hidup yang mendarah daging, warisan nenek moyang. Itulah papaosan, salah satu seni bersastra yang terus hidup di dalam masyarakat Lombok hingga kini. Tembang seperti itu dalam masyarakat Bali dikenal dengan mababasan atau macapatan dalam masyarakat Jawa.

Dalam acara papaosan biasanya tampil empat orang laki-laki dalam pakaian adat, seorang pemaos (penembang), seorang pujangga (penerjemah), dan dua orang pendukung. Dalam pertunjukan ini, yang diadakan sekitar pukul 10.00 WITA dan baru berakhir dini hari, pemaos memegang lontar yang beraksara Sasak dalam bahasa Jawa. Di hadapan mereka tersedia beragam sesajen yang ditempatkan dalam beberapa wadah berbahan kuningan.

Dalam setiap pertunjukan, pemaos menembangkan larik-larik lontar dengan patokan-patokan tertentu. Selanjutnya seorang pujangga menerjemahkan larik-larik itu ke dalam bahasa Sasak. Jika pujangga kurang ahli atau salah menerjemahkan, pemaos akan membetulkan dengan caranya tersendiri, sehingga penonton tidak merasakan pembetulan itu. Mereka menganggapnya sebagai bagian dari pertunjukan. Spontanitas itu dilakukan pemaos untuk menjaga keutuhan teks.

Pada waktu tertentu, jika pemaos lelah, pemaos lain yang juga ahli siap menggantikannya. Begitu seterusnya sampai pagi tiba dan pertunjukan pun usai. Dalam pementasan, naskah lontar mutlak ada di hadapan pemaos. Tanpa lontar, mereka merasa tidak afdol. Itu sebabnya, mereka sering menyalin dalam nedun (daun lontar yang telah tua).

Semakin banyak pertunjukan papaosan, makin sering lontar ditembangkan. Jenis sastra yang ditembangkan tergantung pada acara atau undangan yang mereka terima. Ragam sastra yang mereka miliki juga cukup banyak. Misalnya ketika wawancara dengan Rumadi, kakak Purnifah yang juga salah seorang pujangga memaparkan bahwa di Sembalun Bumbung ini tradisi papaosan masih terus hidup. Mereka sering tampil dalam beragam acara, baik yang berkaitan dengan siklus kehidupan, seperti kelahiran bayi, khitanan, perkawinan, dan kematian, maupun acara-acara yang berkaitan dengan hari besar Islam dan alam.

Sayangnya, menurut Rumadi, generasi muda di situ sudah banyak yang tidak tertarik lagi dengan papaosan. Mereka menganggap acara tembang itu sudah kurang relevan lagi dengan zaman sekarang. Ia prihatin melihat hal itu. Oleh karena itu, sebagai tetua adat, Rumadi merasa bertanggung jawab. Lalu didirikanlah sebuah sanggar seni yang bernama Sanggar Rinjani. Muridnya kebanyakan anak SD, SMP dan para pemuda putus sekolah.

Di sanggar itu, para generasi muda dididik seni membaca sastra (papaosan), tari, dan teater. Pada saat pementasan teater, naskah diambil dari beragam lontar yang mereka miliki. Misalnya, karya yang paling populer “Cilinaya” dan

“Kilabangkara”. Modifikasi naskah ke dalam bentuk teater itu biasanya tidak seutuhnya lagi dipakai, tetapi beberapa bagian saja.

Lombok sebagai daerah yang masih aktif dalam pembacaan lontar memiliki banyak naskah lontar, baik yang menjadi koleksi lembaga maupun perorangan (para pemaos) dan pedanda. Di Sembalun saja, menurut Rumadi, banyak pemilik naskah, hanya ia belum sempat mendatanya. Ia berniat suatu saat pada upacara “Ayu-Ayu”, misalnya, akan mendata naskah yang ada di situ. Pada acara itu, biasanya para pemaos berkumpul.

Banyaknya lontar di Sembalun karena daerah tersebutr masih mengenal papaosan, seperti halnya daerah Lombok lain, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Di Museum NTB di Jalan Panji Tilar 6, Mataram, tersimpan sekitar 1350-an naskah lontar. Naskah-naskah itu beragam. Yang banyak ditemukan atau populer misalnya lontar dengan judul “Rengganis”, “Jatiswara”, “Monyeh”, “Puspakerma”, dan “Amir Hamzah”.

Naskah-naskah lontar itu akan dikeluarkan saat upacara hari besar Islam, seperti Isra‘ Mi‘raj dan Maulud Nabi Muhammad. Pada saat itu dibacakan naskah-naskah yang berkaitan dengan ajaran Islam, seperti lontar “Jatiswara”.

Perayaan itu dirayakan karena mereka percaya bahwa masyarakat Sembalunlah yang pertama masuk Islam. Pada acara itu terkadang ditembangkan pula “Kertanah”. Kedua lontar itu ditulis dalam aksara Sasak dan dengan bahasa Jawa. Karya yang sama juga ditembangkan pada pesta khitanan anak. Mereka percaya pada saat pembacaan naskah itulah pengislaman anak dimulai.

Selain kedua naskah di atas, pada acara khitanan itu kadang-kadang dilantunkan juga “Kilabangkara”, yang mengajarkan perilaku pemimpin yang baik. Lontar itu kadang dibacakan pula pada acara perkawinan, dengan harapan sang suami dapat menjadi pemimpin yang baik bagi istri dan keluarganya kelak.

Dalam upacara adat, seperti menyongsong kedatangan Tahun Alif, sering dibacakan beberapa naskah, umpamanya “Kawitan” yang berisi tanya jawab Nabi Muhammad dengan malaikat dan “Purwadaksi” yang menceritakan kehidupan alam gaib tentang pencarian jati diri; sang tokoh mencari jati diri ke berbagai tempat, tapi akhirnya yang dicari itu ada dalam diri sendiri.

“Sangkrudang” ditembangkan pada suatu upacara unik yamg dihadiri para tetua adat, yakni upacara untuk sapi ternak setelah sapi selesai membajak. Naskah itu dibacakan dengan harapan ternak sapi dan tumbuhan yang dimiliki para petani dapat beranak kembar. Dalam naskah itu dikisahkan kehidupan sang raja yang mempunyai istri beranak kembar.

Yang menarik pada pembacaan itu, kalau naskah tidak selesai dibacakan, pemaos harus bisa mengubah cerita menjadi happy ending. Kalau tidak, mereka takut menemui penderitaan seperti cerita yang dibacakan.

Jika “Sangkrudang” dibacakan pada upacara selesai membajak, “Joarsyah” dibacakan pada upacara Selamatan Padi dengan harapan mereka dapat meneladani sang tokoh yang tidak pernah lelah mengembangkan pertanian dengan alat-alat bajak pemberian Jibril.

Pada upacara kelahiran bayi, masyarakat Lombok mendendangkan “Rengganis”. Kisah ini mengisahkan kehidupan raja yang merawat bayi tanpa istrinya. Raja dengan sabar memapakkan (mengunyahkan) nasi untuk sang putri yang tidak mendapatkan air susu ibu.

Beragam upacara yang disebutkan di atas masih dapat disaksikan dalam kehidupan masyarakat Lombok. Tradisi lisan yang berakar pada tradisi tulis masih kuat. Bahkan, segala sisi kehidupan dikaitkan dengan ajaran yang ada dalam lontar. Itu sebabnya, mereka menyimpannya dengan rapi sebagai warisan.

Sumber : http://www.korantempo.com

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s